Oleh : Kuwat

Periode Kritis

Hipotesis Periode Kritis pertama kali diusulkan  oleh neurolog Wilder Penfielg dan Lamar Robert pada tahun 1959. Pada tahun 1967 Eric Lenneberg memopulerkannya dengan didukung juga oleh Noam Chomsky.Periode Kritis (Critical Period) adalah masa emas / penting bagi anak untuk belajar bahasa. Menurut Eric Lenneberg (1964), periode penting pemerolehan bahasa antara usia 3-5 tahun. Bambang Kaswanti Purwo menyebut bahwa usia 6-12 tahun merupakan masa emas untuk belajar bahasa selain bahasa ibu.

Terapannya pada pembelajaran bahasa, pembelajaran bahasa (B2) pada periode kritis lebih ditekankan pada aspek pelafalan (fonologi) bukan pada penguasaan morfologi atau sintaksisnya. Dengan demikian anak mampu melafalkan kata dalam B2 seperti penutur aslinya.

Model Pembelajaran B2 di SD

Pembelajaran bahasa Inggris (B2) di SD kelas rendah dan kelas tinggi harus dibedakan model pembelajarannya. Menurut Bambang Kaswanti Purwo, usia 6-12 tahun merupakan masa emas (periode kritis) untuk anak belajar B2. Dengan demikian pembelajaran B2 pada masa ini harus betul-betul diperhatikan. Pembelajaran bahasa Inggris (B2) di SD kelas rendah ( usia 6-8 tahun) lebih menekankan penguasaan fonologi (tata bunyi/pelafalan). Kondisi psikologi siswa SD kelas rendah belum matang sehingga belum bisa berfikir tentang tata kalimat. Adapun pembelajaran B2 pada siswa SD kelas tinggi ( usia 9-12 tahun)menekankan pada penguasaan morfologi dan sintaksisnya karena fonologi sudah dikuasai saat di kelas rendah. Pada usia usia 9-12 tahun kondisi psikologi anak lebih siap untuk mengkonstruksi kata dan kalimat. Perbedaan pembelajaran B2 pada siswa SD kelas rendah dan kelas tinggi bertolak dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Fathman terhadap 200 anak berusia 6-15 tahun yang belajar bahasa Inggris sebagai B2 di sekolah di AS. Penelitian Fathman menunjukkan bahwa anak usia 6-10 tahun lebih berhasil pada penguasaan fono;ogi bahasa Inggris sedangkan pada anak usia 11-15 tahun lebih berhasil pada penguasaan morfologi dan sintaksisnya.

Dalam pembelajaran B2, bahasa ibu (B1) perlu digunakan sebagai bahasa pengantar secara tepat dan proposional. Ketika guru memajankan sebuah kata, frasa, atau kalimat diawali dengan menggunakan B1 secara utuh baru diikuti B2 secara utuh. Penggunaan B1 dan B2 secara bersama-sama dengan cara alih kode bukan campur kode. Dengan alih kode, siswa akan menguasai konstruksi kedua bahasa secara utuh tanpa ada intervensi. Ketika di kelas tinggi bila memungkinkan tidak lagi menggunakan B1 sebagai bahasa pengantar.

Peran Logat dalam Berkomunikasi

Peran logat dalam berkomunikasi tidaklah penting. Yang penting dalam berkomunikasi adalah dipahaminya pesan oleh mitra tutur. Apapun logat bahasanya bila pesan bisa dipahami oleh mitra tutur berarti komunikasi berjalan baik.

Ketika anak belajar B2 pada periode kritis, anak tidak akan terpengaruh logat B1 yang telah dikuasainya. Anak mampu mengucapkan kata-kata dalam B2 secara fasih sebagaimana penutur asli. Demikian juga logat B1 tidak akan  terpengaruh oleh logat B2 yang baru dikuasainya. Dengan demikian logat tidak bisa dihapus dengan cara apapun termasuk dengan cara belajar B2.

Remidiasi

Teori Stimulus-Respon Edward L. Thorndike tepat diterapkan pada saat remidiasi. Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon secara berulang-ulang. Jika aktifitas hasilnya tidak memuaskan perilaku cenderung untuk tidak diulang. Ada 2 hukum pembelajaran menurut Thorndike, yaitu the law of xercise ( hukum pembentukan kebiasaan) dan the law of effect ( jika perilaku memberikan hasil yang memuaskan hubungan antara S-R itu akan diperkuat, perilaku akan cenderung diulang. Remidiasi sesungguhnya adalah proses perbaikan melalui pengulangan-pengulangan stimulus-respon. Agar remidiasi mencapai tujuan yang diharapkan pengulangan-pengulangan dalam remidiasi harus sejalan dengan 2 hukum pembelajaran Thorndike tersebut. Maksudnya, soal-soal yang diberikan dalam remidiasi harus diturunkan bobotnya sehingga hasil yang dicapai siswa memuaskan. Dan itu menjadi penguat. Secara bertahap ditingkatkan bobotnya sampai mencapai nilai ideal.

LAD dan Universal Grammer

Tata bahasa universal (kesemestaan bahasa) dan Language Acquisitio Device (LAD) sesungguhnya dua hal yang saling berhubungan. Tata bahasa universal merupakan bagian LAD.  Uraian berikut memperjelas hubungan antara Tata bahasa universal (kesemestaan bahasa) dan Language Acquisitio Device (LAD) .

Menurut McNeill, LAD itu terdiri atas empat bakat bahasa, yakni :

  1. Kemampuan membedakan bunyi ujaran dengan bunyi yang lain dalam lingkungannya;
  2. Kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam;
  3. Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem lain yang tidak mungkin;
  4. Kemapuan untuk tetap mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh.

Seorang anak dapat belajar bahasa apapun yang dipajankan kepadanya. Kenyataan anak-anak di dunia belajar bahasa dengan cara yang sama adalah bukti bahwa ada tata bahasa universal. Anak-anak di semua negara di di dunia memperoleh /p/ dan /b/, kemudian /t/ dan /d/ baru kemudian memperoleh /k/ dan /g/. urutan itu bersifat universal. Dengan demikian, anak sejak lahir dibekali sistem bahasa yang sama ( tata bahasa universal). Sistem bahasa universal yang dimiliki anak merupakan bagian dari LAD.

Satu Tanggapan to “Pembelajaran Bahasa Kedua”


  1. Bagaimana cara membelajarkan morfologi bahasa Indonesia di SD
    trimakasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s