Menurut Rustono (1999:51) prinsip yang mengatur mekanisme percakapan antar pesertanya agar dapat bercakap-cakap secara kooperetif dan santun disebut prinsip percakapan. Dari batasan itu dapat dikemukakan prinsip percakapan itu mencakup dua prinsip, yaitu prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.

1. Prinsip Kerja Sama

    Prinsip kerja sama adalah prinsip yang mengatur apa yang harus dilakukan oleh peserta tutur agar percakapannya terdengar koheren. Menurut Rustono (1999:53) penutur yang tidak memberikan kontribusi terhadap koherensi percakapan sama dengan tidak mengikuti prinsip kerja sama. Jawaban seorang anak yang berbunyi “Besok hari Minggu, Bu.” Atas pertanyaan ibunya “Sudah belajar?” sepintas tidak koheren  dan tampak melanggar prinsip kerja sama. Atas dasar makna luarnya jawaban anak itu tidak relevan dengan pertanyaan ibunya karena menurut makna ini jawaban si anak mestinya “Sudah, Bu.” atau “Belum, Bu!”. Akan tetapi, seandainya diketahahui bahwa pertanyaan ibunya tadi berupa peringatan supaya anak itu belajar percakapan ibu dan anaknya itu koheren.

    Menurut Grice (1975 dalam Rustono,1999:54, dalam Rahadi,2008:52) prinsip kerja sama itu meliputi empat maxim, yaitu (1) maksim kuantitas (maxim of quantity, (2) maksim kualitas (maxim of quality), (3) maksim relevansi (maxim of relevance), dan (4) maksim pelaksanaan/cara (maxim of manner).

    a. Maksim Kuantitas

      Menurut Rahardi (2008:53) di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin. Tuturan yang tidak mengandung  informasi atau melebihi yang diperlukan mitra tutur dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama kamsim kuantitas. Perhatikan tuturan mahasiswa S2 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Unnes kepad rekannya yang juga kuliah S2 di prodi yang sama.

      (1)   “Lihat itu Prof. Rustono memasuki ruang kuliah.”

      (2)   “Lihat itu Prof. Rustono, dosen mata kuliah Pragmatik  yang menjabat
      dekan FBS, Unnes memasuki ruang kuliah.”

      Tuturan (1) merupakan tuturan yang sudah jelas dan sangat informatif isinya. Penambahan informasi seperti yang ditujunjukkan pada tuturan (2) justru akan menyebabkan tuturan menjadi berlebihan dan terlalu panjang. Tuturan (2) tidak sesuai dengan prinsip kerja sama maksin kuantitas.

      b. Maksim Kualitas

        Maksim kualitas mempersyaratkan seorang penutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai fakta sebenarnya di dalam bertutur. Menurut Rustono (1999:56), maksim ini berisi nasihat untuk memberikan kontribusi yang benar dengan bukti-bukti tertentu. Dua ajaran maxim ini adalah “Jangan mengatakan apa yang Anda yakini salah!” dan “Jangan mengatakan sesuatu yang Anda tidak mempunyai buktinya!”

        (3)   “Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945.”

        Tuturan (3) itu tidak memenuhi prinsip kerja sama maksim kualitas karena ketidak benaran tuturan (3) itu diketahui banyak orang. Penutur tidak punya bukti yang memadai atas kebenaran tuturannya.

        (4)   “Ibu kota negara Indonesia adalah Jakarta.”

        Tuturan (4) tersebut secara kualitatif benar karena penutur meyakini dan memiliki bukti-bukti memadai seperti istana negara, kantor-kantor kementerian, gedung DPR/MPR semuanya berada di Jakarta. Dengan demikaian, tuturan (4) memenuhi prinsip kerja sama maksim kualitas.

        c. Maksim Relevansi

          Agar terjalin kerja sama yang baik antar penutur dan mitra tutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan. Bertutur dengan tidak memberi kontribusi dianggap melanggar prinsip kerja sama.

          Tuturan Arkan pada contoh (5) berikut ini merupakan tuturan yang memberi kontribusi yang relevan.

          (5)   Rona    : “Aduh, aku haus banget, Dik.”

          Arkan  : “Aku belikan es cendol ya, Kak.”

          Apa yang dituturkan oleh Arkan tersebut relevan dengan masalah yang dihadapi di dalam pembicaraan. Tuturan Rona berisi keluhan bahwa dia kehausan. Tuturan tersebut menyebabkan Arkan mengekspresikan tuturan yang sesuai atau terkait dengan pokok persoalan yang diutarakan Rona.

          Jika diubah menjadi seperti pada contoh (6) berikut, tuturan Arkan tidak memberikan kontribusi yang relevan.

          (6)   Rona    : “Aduh, aku haus banget, Dik.”

          Arkan  : “Aku baru saja minum es cendol, Kak.”

          Dengan demikian, tuturan Arkan pada contoh (6) tidak sesuai dengan maksim relevansi dalam prinsip kerja sama.

          d. Maksim Pelaksanaan/Cara

            Menurut Rahardi (2008:57)  pelaksanaan mengharuskan peserta pertuturan bertutur secara langsung, jelas, dan tidak kabur. Rustono (1999:57) menyatakan bidal cara sebagai bagian prinsip kerja sama menyarankan penutur untuk mengatakan sesuatu dengan jelas. Ada empat jabaran bidal ini, yaitu 1) hindarkan ketidakjelasan tuturan, 2) hindarkan ketaksaan, 3) singkat (hindarkan uraian panjang lebar yang berlebihan), dan 4) tertib-teratur. Bertutur dengan tidak mempertimbangkan hal-hal tersebut dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan – Rustono menyebutnya bidal cara(1999:57).

            (7)   Aji       : “Ayo, cepat dibuka!

            Nita     : “Sebentar dulu, masih dingin.”

            Tuturan (7) di atas memiliki kadar kejelasan yang rendah sehingga kadar kekaburannya menjadi sangat tinggi. Tuturan Aji sama sekali tidak memberikan kejelasan tentang apa yang sebenarnya diminta oleh penutur. Kata ‘dubuka’ dalam tuturan (7) mengandung kadar ketaksaan dan kekaburan sangat tinggi. Oleh karenanya , maknanya pun menjadi sangat kabur. Dapat dikatakan demikian karena kata ‘dibuka’ dimungkinkan ditafsirkan bermacam-macam. Demikian pula dengan tuturan Nita juga mengandung kadar ketaksaan cukup tinggi. Kata ‘dingin’ yang dituturkan oleh Nita dapat menimbulkan banyak penafsiran karena dalam tuturan tersebut tidak jelas apa sebenarnya yang masih ‘dingin’ itu. Tuturan (7) dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama karena tidak memenuhi maksim pelaksanaan.

            Pembicaraan yang panjang lebar dan berlebihan untuk menyampaikan sedikit maksud harus pula dijauhi. Sebaliknya, dalam maksim pelaksanaan berbicara singkat justru dianjurkan.

            (8)   “Mas, bisakah mencukur dengan rapi rambutku yang sudah panjang ini?”

            Tuturan (8) tersebut tidak memenuhi prinsip kerja sama karena berlebihan dan tidak sesuai maksim pelaksanaan. Dalam situasi tidak resmi, seperti di salon tuturan yang memenuhi maksim pelaksanaan adalah seperti tuturan (9) berikut ini.

            (9)   “Mas, cukur.”

            Ketertiban dan keteraturan tuturan juga merupakan tuntutan maksim ini. Tuturan (10) berikut ini tidak memenuhi prinsip kerja sama karena tidak tertib dan tidak runtut.

            (10) “Cuaca yang berkabut menambah kemolekan dataran tinggi tersebut. Kami sangat menikmati keindahan sepanjang perjalanan. Saya, Erni, Ive dan Yoke rekreasi ke Dieng. Hari itu hari Minggu.”

            Tuturan (10) memenuhi tuntutan prinsip kerja sama bila diubah seperti tuturan (11) berikut ini.

            (11)  “Hari itu hari Minggu . Saya, Erni, Ive dan Yoke rekreasi ke Dieng. Kami sangat menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan. Cuaca yang berkabut menambah kemolekan dataran tinggi tersebut.”

            2. Prinsip Kesantunan

              Berbeda dari prinsip kerja sama yang hanya dicetuskan oleh Grice (1975), konsep kesantunan dikemukakan oleh banyak ahli. Sejumlah ahli yang telah mengemukakan konsep kesantunan itu antara lain Lakoff (1972), Fraser (1978), Brown dan Levinson (1978), dan Leech (1993). Dasar para ahli tentang konsep kesantunan berbeda-beda. Ada konsep kesantunan yang dirumuskan dalam bentuk kaidah, ada pula yang dirumuskan dalam bentuk strategi. Konsep kesantunan yang dirumuskan dalam bentuk kaidah membentuk prinsip kesantunan, sedangkan konsep kesantunan yang dirumuskan dalam bentuk strategi membentuk teori kesantunan.

              Menurut Grice (1991:308 dalam Rustono, 1999:61) prinsip kesantunan itu berkenaan dengan aturan tentang hal-hal yang bersifat sosial, estetis, dan moral di dalam bertindak tutur. Rustono (1999:61) menyatakan alasan diterapkannya prinsip kesantunan adalah bahwa di dalam tuturan penutur tidak cukup hanya dengan mematuhi prinsip kerja sama. Prinsip kesantunan diperlukan untuk melengkapi prinsip kerja sama dan mengatasi kesulitan yang timbul akibat penerapan prinsip kerja sama. Gunarwan (1995:6 dalam Rustono,1999:61) menegaskan bahwa pelanggaran prinsip kerja sama adalah bukti bahwa di dalam berkomunikasi kebutuhan penutur (dan tugas penutur) tidaklah untuk menyampaikan informasi saja, tetapi lebih dari itu. Di samping untuk menyampaikan amanat, kebutuhan (dan tugas) penutur adalah menjaga dan memelihara hubungan sosial-pendengar.

              Dari beberapa konsep kesantunan yang dikemukakan para ahli, menurut Rahardi (2008:59) prinsip kesantunan yang sampai dengan saat ini dianggap paling lengkap, paling mapan, dan relatif paling komperhensif adalah prinsip kesantunan yang dirumuskan oleh Leech (1983). Secara lengkap Leech (1983:132 dalam Rustono,1999:65) mengemukakan prinsip kesantunan yang meliputi enam bidal, yaitu (a) bidal ketimbangrasaan (tact maxim), (b) bidal kemurahhatian (generosity maxim), (c)  bidal keperkenaan (appobation maxim), (d) bidal kerendahhatian (modesty maxim), (e) bidal kesetujuan (agreement maxim), dan (f) bidal kesimpatian (symphaty maxim)

              Dalam prinsip kesantunan, setiap bidal berisi nasihat atau petunjuk. Uraian nasihat setiap bidal dalam prinsip kesantunan Leech sebagai berikut.

              a. Bidal Ketimbangrasaan (Tact Maxim)

                Bidal ketimbangrasaan dijabarkan lagi dalam subbidal, yaitu “Meminimalkan biaya kepada pihak lain!” dan “Memaksimalkan keuntungan kepada pihak lain!” Gagasan dasar bidal ketimbangrasaan dalam prinsip kesantunan adalah bahwa pihak lain di dalam tuturan hendaknya dibebani biaya seringan-ringannya tetapi dengan keuntungan sebesar-besarnya. Perhatikan tuturan (12) berikut ini!

                (12)                       Tuan rumah     : “Silakan makan saja dulu, nak! Tadi kami semua
                sudah mendahului.”

                Tamu               : “Wah, saya jadi tidak enak, Bu.”

                Di dalam tuturan (12) tampak sangat jelas bahwa apa yang dituturkan si Tuan Rumah sungguh memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan biaya bagi sang Tamu. Tuturan si Tuan Rumah pada contoh (12) memenuhi prinsip kesantunan karena memenuhi nasihat bidal ketimbangrasaan.

                b. Bidal Kemurahhatian (Generosity Maxim)

                  Bidal kemurahhatian – Rahardi (2008:61) menyebutnya maksim kedermawanan, dijabarkan lagi dalam dua subbidal, yaitu “Meminimalkan keuntungan pada diri sendiri!” dan “Memaksimalkan keuntungan kepada pihak lain!” Menurut Rustono (1999:67) nasihat yang dikemukakan di dalam bidal ini adalah bahwa pihak lain di dalam tuturan hendaknya diupayakan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya sementara itu diri sendiri atau penutur hendaknya berupaya mendapatkan keuntungan sekecil-kecilnya. Dengan bidal kemurahhatian, penutur diharapkan dapat menghormati orang lain. Penghormatan terhadap orang lain akan terjadi apabila orang dapat mengurangi keuntungan pada dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi pihak lain. Tuturan (13) dapat memperjelas pernyataan tersebut.

                  (13)   A         : “Mari saya cucikan baju kotormu! Pakaianku tidak banyak, kok,
                  yang kotor.”

                  B         : “Tidak usah, Mbak. Nanti siang saya akan mencuci juga,
                  kok.”

                  Dari tuturan yang disampaikan oleh A dapat diketahui dengan jelas bahwa A berusaha memaksimalkan keuntungan pihak lain (B) dengan cara menambahkan beban bagi dirinya sendiri. Hal itu dilakukan dengan cara menawarkan bantuan untuk mencucikan pakaian kotornya B. Tuturan A pada contoh (13) memenuhi nasihat bidal kemurahhatian prinsip kesantunan.

                  c. Bidal Keperkenaan (Appobation Maxim)

                    Bidal keperkenaan dijabarkan dalam subbidal, yaitu “Minimalkan penjelekan kepada pihak lain!” dan “Maksimalkan pujian kepada pihak lain.” Bidal keperkenaan berisi nasihat bahwa orang akan dianggap santun  apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan atau pujian kepada pihak lain dan meminimalkan penjelekan terhadap pihak lain. Dengan bidal ini diharapkan para peserta tutur tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak lain. Tuturan (14) B berikut ini mematuhi bidal keperkenanan, sementara tuturan (15) B melanggarnya.

                    (14) A         : “Prof, saya tadi sudah memulai kuliah perdana Pragmatik.”

                    B         : “Oya, tadi saya mendengar penjelasan anda tentang Pragmatik
                    sangat jelas.”

                    (15)  A         : “Maaf, aku pinjam tugas Pragmatik. Aku tidak bisa

                    mengerjakan.”

                    B         :  “Dasar goblok, ini cepat kembalikan!”

                    Tuturan (14) B mematuhi bidal keperkenaan dalam prinsip kesantunan karena penutur meminimalkan penjelekan terhadap pihak lain dan memaksimalkan pujian terhadap pihak lain. Sementara itu tuturan (15) B melanggar bidal ini karena meminimalkan penjelekan kepada diri sendiri dan memaksimalkan pujian kepada diri sendiri. Tuturan (14) B memiliki tingkat kesantunan yang lebih tinggi dari pada tuturan (15) B.

                    d. Bidal Kerendahhatian (Modesty Maxim)

                      Di dalam bidal kerendahhatian, peserta tutur diharapkan dapat bersikap rendah hati dengan cara meminimalkan  pujian terhadap diri sendiri dan memaksimalkan penjelekan kepada diri sendiri. Orang akan dikatakan tidak santun apabila di dalam kegiatan bertutur selalu memuji dan mengunggulkan diri sendiri.Bidal ini bertujuan untuk merendahkan hati  agar tidak sombong bukan untuk merendahkan diri. Perhatikan tuturan (16) dan (17) berikut ini!

                      (16) A         : “Mas, dalam kegiatan seminar internasional nanti anda
                      menjadi moderator, ya.”

                      B         : “Waduh, nanti aku grogi.”

                      (17) A         : “Mas, dalam kegiatan seminar internasional nanti anda
                      menjadi moderator, ya.”

                      B         : “Tidak masalah, jadi moderator itu sepele buatku.”

                      Tuturan (16) B lebih santun dibandingkan tuturan (17) B. Tuturan (16) B dikatakan lebih santun karena penutur memaksimalkan penjelekan pada diri sendiri, sedangkan tuturan (17) B kurang santun karena memaksimalkan pujian pada diri sendiri. Dengan demikian tuturan (16) B mematuhi prinsip kesantunan untuk bidal kerendahhatian, sedangkan tuturan (17) B melanggarnya.

                      e. Bidal Kesetujuan (Agreement Maxim)

                        Bidal ini dijabarkan dalam subbidal “Minimalkan ketidaksetujuan antara diri sendiri dan pihak lain!” dan “Maksimalkan kesetujuan antara diri sendiri dan pihak lain!” Menurut Rustono (1999:69) bidal kesetujuan – Rahardi (2008:64) menyebutnya dengan istilah maksim permufakatan, adalah bidal di dalam prinsip kesantunan yang memberikan nasihat untuk meminimalkan ketidaksetujuan antara diri sendiri dan pihak lain dan memaksimalkan kesetujuan antara diri sendiri dan pihak lain. Di dalam bidal ini, ditekankan agar peserta tutur dapat saling membina kemufakatan antara diri penutur dan mitra tutur dalam kegiatan bertutur, masing-masing akan dapat dikatakan bersikap santun. Tuturan (18) B dan (19) B merupakan tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan bidal kesetujuan.

                        (18) A         : “Bagaimana kalau sehabis kuliah kita mendiskusikan tugas
                        Prof. Rustono?

                        B         : “Boleh.”

                        (19) A         : “Bagaimana kalau sehabis kuliah kita mendiskusikan tugas
                        Prof. Rustono?

                        B         : “Saya sangat setuju.”

                        Tuturan (18) B dan (19) B merupakan tuturan yang mem­inimalkan ketidaksetujuan dan memaksimalkan kesetujuan antara diri sendiri sebagai penutur dengan pihak lain sebagai mitra tutur. Dibandingkan dengan tuturan (18) B, tuturan (19) B lebih memaksimalkan kesetujuan. Karena itu derajat kesopan-nya lebih tinggi tuturan (19) B daripada tuturan (18) B.

                        f. Bidal Kesimpatian (Symphaty Maxim)

                          Bidal kesimpatian dijabarkan dalam dua subbidal, yaitu 1) minimalkan antipati antar diri sendiri dan pihak lain, dan 2) maksimalkan simpati antar diri sendiri dan pihak lain. Di dalam bidal ini, diharapkan para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antar diri penutur dengan mitra tutur. Sikap antipati terhadap pihak lain dianggap sebagai tindakan tidak santun. Tuturan (20) B dan tuturan (21) B berikut ini mematuhi bidal kesimpatian dalam prinsip kesatunan dengan kadar kesantunan yang berbeda.

                          (20) A         : “Sis, ibuku meninggal tadi pagi.”

                          B         : “Innalillahiwainailahi rojiun. Saya ikut berduka cita.”

                          (21)  A         : “Sis, ibuku meninggal tadi pagi.”

                          B         : “Innalillahiwainailahi rojiun. Saya ikut berduka cita yang
                          sedalam-dalamnya atas meninggalnya ibunda tercinta.”

                          Tuturan (20) B dan (21) B dikatakan memenuhi prinsip kesantunan bidal kesimpatian karena kedua tuturan tersebut memaksimalkan simpati kepada A. Dalam kedua tuturan tersebut tidak terlihat adanya rasa antipati terhadap B. Namun demikian, kadar kesantunan tuturan (21) B lebih tinggi dibanding tuturan (20) B.

                          Berbeda dengan tuturan (20) B dan (21) B, tuturan (22) B berikut ini melanggar prinsip kesantunan bidal kesimpatian.

                          (22) A         : “Sis, ibuku meninggal tadi pagi.”

                          B         : “Semua orang juga akan mati.”

                          Tuturan (22) B dikatakan melanggar bidal kesantunan karena tuturan tersebut memaksimalkan antipati dan meminimalkan simpati terhadap A. Dengan demikan, tuturan (22) B tidak santun.

                          

                          Tinggalkan Balasan

                          Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

                          Logo WordPress.com

                          You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

                          Gambar Twitter

                          You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

                          Foto Facebook

                          You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

                          Foto Google+

                          You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

                          Connecting to %s